Dua waktu Untuk Muhasabah

WarnaIslam.com Jumat, 26 Desember 2008 11:05

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وِآلهِ وَسَلَّمَ : "اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ اْلأَمَانِيَّ".

Syaddad bin Aus RA berkata, Rasulullah SAW bersabda : "Orang yang cerdas adalah yang menghisab (introfeksi) dirinya serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT. (HR. Tirmidzi, ia berkata : "Hadits ini adalah hadits hasan".)

Kandungan Hadits

Hadits di atas menjelaskan satu pembahasan besar, karena kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di ahirat, keberuntungan untuk selama-lamanya bagi mereka yang mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT untuk memasuki surga-Nya. Hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah misi besar seorang hamba, yaitu menggapai ridha Allah SWT. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi, perencanaan , dan strategi serta pelaksanaan yang jelas kemudian diiringi dengan muhasabah. Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah SAW mengaitkan muhasabah dengan kesuksesan, sedangkan suatu kegagalan adalah karena mengikuti hawa nafsu dan banyaknya angan-angan.

Muhasabah (introfeksi), kalimat ini terlanjur popular dan sering terdengar setiap tahun di penghujung akhir tahun, baik tahun hijriyah atau masehi. Banyak orang yang mulai sadar lalu melakukan muhasabah, sudah sejauh mana amaliah yang pernah dia lakukan selama setahun belakangan ini.

Walaupun sebenarnya, muhasabah tidak terikat dengan akhir tahun. Kapan pun setelah kita melaksanan aktifitas atau amaliah ibadah maka kita hendaknya bisa bermuhasabah.

Saat sendiri atau menyendiri, pernahkah kita bermuhasabah diri, perkataan apa yang pernah keluar dari mulut kita ? perbuatan apa yang pernah kita lakukan? Apakah kita pernah dengan ‘bangga’ mengihitung-hitung keburukan atau kesalahan yang pernah kita lakukan seperti halnya kita bangga menghitung amal baik kita?. Apakah segala amaliah ibadah yang pernah kita lakukan sudah memenuhi standard ikhlas karena Allah SWT semata? Atau malah sebaliknya selalu ingin dipuji dan ingin dilihat dan didengar orang (riya dan sum’ah)? Dan bagaimanakah nanti kita akan datang menuju dan menghadap Allah SWT dengan memikul beban dosa dan kesalahan yang tak terhingga?

Allah SWT berfirman :

"يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ، إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ".

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal- amalnya) untuk hari esok (hari akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan): Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Amat Meliputi PengetahuanNya akan segala yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang telah melupakan (perintah-perintah) Allah, lalu Allah menjadikan mereka melupakan (amal-amal yang baik untuk menyelamatkan) diri mereka. Mereka itulah orang-orang yang fasik (durhaka)" (Q.S. Al-Hasyr/59 : 18-19)

Atau belum pernah kah kita mendengar atau merenungi firman Allah SWT :

"اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ".

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (Q.S. Yasin/36 : 65)

Rasulullah SAW bersabada :

"اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ اْلأَمَانِيَّ".

“Orang yang pandai adalah yang menghisab (introfeksi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT. (HR. Tirmidzi, ia berkata : “Hadits ini adalah hadits hasan”.)

Umar bin Khattab RA berkata :

"حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا".

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi pengungkapan yang besar (hisab), sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bangi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia”.

Suatu hari Umar bin Khattab RA pernah menuliskan Surat kepada para bawahannya :

"حَاسِبْ نَفْسَكَ فِي الرَّخَاءِ قَبْلَ حِسَابِ الشِّدَّةِ، فَإِنَّ مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الرَّخَاءِ قَبْلَ الشِّدَّةِ، عَادَ أَمْرُهُ إِلىَ الرِّضَا وَالْغِبْطَةِ، وَمَنْ أَلْهَتْهُ حَيَاتُهُ، وَشَغَلَتْهُ أَهْوَاؤُهُ عَادَ أَمْرُهُ إِلَى النَّدَامَةِ وَالْخَسَارَةِ".

“Hisablah diri kalian di saat senang (lapang) sebelum datang keadaan sulit, karena sesungguhnya orang yang menghisab dirinya saat senang sebelum tiba masa kesulitan, maka dia akan menghadapi urusannya dengan ridha dan iri yang baik. Dan barang siapa yang dilalaikan dengan kehidupannya, disibuki dengan hawa nafsunya maka dia akan mengalami penyesalan dan kerugian”.

Imam Hasan Al-Bashri berkata :

“Seorang Mukmin adalah pemimpin bagi dirinya. Dia senatiasa bermuhasabah diri karena Allah. Sesungguhnya pada hari kiamat nanti hisab akan menjadi ringan terhadap orang-orang yang telah bermuhasabah diri di dunia.. Dan sesungguhnya pada hari kiamat hisab akan menjadi amat berat terhadap orang-orang yang mengerjakan semua urausannya tanpa dididahului dengan bermuhasabah diri”.

Dua Waktu Untuk Muhasabah

Pertama : Muhasabah sebelum melakukan suatu pekerjaan atau aktifitas ibadah, yaitu seorang Mukmin harus berfikir sejenak, apakah yang akan dia kerjakan akan mendatangkan manfaat, baik buat dirinya atau pun orang lain? atau malah sebaliknya.

Karena sering kali ketika dia ingin melakukan sesuatu didasari kuat oleh dorongan emosional yang tinggi, lalu tanpa perhitungan matang langsung menerobos masuk ke suatu pekerjaan tersebut yang berkahir pada penyesalan.

Imam Hasan Al-bashri, salah seorang Tabi’in senior berkata : “Semoga Allah merahmati seorang hamba merenung sesaat sebelum mengerjakan sesuatu. Apabila pekerjaannya tersebut bernilai karena Allah, maka lakukanlah. Dan apabila sebalikmya maka tinggalkanlah”.

Kedua : Muhasabah setelah melakukan pekerjaan atau aktifitas ibadah, yaitu bermuhasabah diri atas segala perintah Allah SWT dan Rasul-Nya yang sudah banyak kita lalaikan hak-hak-Nya.

Juga bermuhasabah diri atas segala perbuatan yang mubah atau yang sudah menjadi kebiasaan, kenapa selalu dilakukan? Apakah aktifitas tersebut dilakukannya dengan mengharapkan ridha Allah SWT? Kalau demikian beruntunglah dia. Atau dia hanya mengharapkan kehidupan dunia, maka merugilah dia dan selamanya tidak akan sukses dalam arti yang sebenarnya. Yaitu terhindarnya dia dari azab api neraka dan Allah masukkan dia ke dalam surga-Nya.

Allah SWT berfirman :

"...فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازََ".

“…Sesungguhnya orang yang dihindarkan dari azab api neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh dia telah sukses” (Q.S. Ali ‘Imran/3 : 185)

Sudahkah kita termasuk orang yang gemar bermuhasabah diri, tanpa harus menunggu berakhirnya tahun. Atau kita termasuk orang yang terlambat untuk bermuhasabah karena cepatnya ajal menjemput kita? na’udzu billah.

Wallahu a’lam bishshawab

(Tulisan ini juga bisa dibaca di www.taufikhamim.com)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Dua waktu Untuk Muhasabah"

Poskan Komentar