Kebahagiaan

WarnaIslam.com Ahad, 01 Februari 2009 00:56

Apa sih definisi bahagia? Apa sih yang membuat kita, manusia, merasa bahagia? Apakah kebahagiaan sejati, atau adakah kebahagiaan semu dan palsu..?

Mari kita sama-sama me-list hal-hal yang bisa membuat kita bahagia:

Uang yang banyak; rumah besar; kendaraan mewah; memiliki istri yang yang cantik, cerdas dan shalihah bagi seorang pria,-atau tampan, mapan dan sholeh, bagi wanita-; punya anak-anak yang sehat dan tampan-cantik serta baik; punya pekerjaan yang enak; penghasilan yang cukup; tubuh yang sehat; punya teman-rekan kerja yang enak; tetangga yang baik, dst

Apakah ada hal yang luput..? Silakan ditambahkan sendiri.

Apakah benar bahwa semua hal tersebut diatas bisa menjamin bahwa kita akan merasakan kebahagiaan? Saya rasa tidak, setidaknya tidak 100% bahagia.

Definisi Bahagia

Dalam pandangan saya pribadi, kebahagiaan adalah ketika hati kita merasa tentram.

Betapa banyak orang yang akhirnya tertipu, dengan meyakini bahwa semua hal yang kita telah sebutkan diawal bisa membuat bahagia. Sehingga membuat mereka melakukan (hampir) apa saja untuk mendapatkannya. Untuk bisa memiliki uang yang banyak, rumah yang besar, mobil yang mewah, dan pasangan yang menarik!

Jika kesemua hal tersebut diraih dengan mempergunakan cara-cara yang tidak sah; tidak digunakan untuk hal-hal yang baik; dan tidak menjadikan orang yang memilikinya menjadi pribadi yang bersyukur, saya rasa hal itu tidak akan membuat bahagia.

Rumus

Sebagai seorang muslim, tujuan tertinggi kita adalah mendapatkan keridhoan Allah SWT,

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. Ar-Ra'd: 22-24)

Entah bagaimanapun juga keadaan diri kita, jika kita masih bersama Allah, itu sudah lebih dari cukup.

Dengan rumusan inilah, kita baru bisa memahami, perkataan Rasulullah SAW ketika bernaung di sebuah kebun, saat hijrah ke Thaif dan dilempari dengan batu-batu sampai berdarah, Rasulullah SAW mengangkat kepala seraya berdoa,

"Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.“

Dengan rumusan itu pula, kita bisa mencerna logika para ulama salaf dahulu kala, yang berkata,

"Andaikata para raja-raja mengetahui kebahagiaan yang ada pada hati-hati kami, tentu mereka akan merebutnya, meski dengan pedang-pedang mereka"

Kebahagiaan Sejati

Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Kehidupan sejati kita adalah pada alam akhirat nanti. Hanya ada dua pilihan di hari akhir, surga atau neraka, tidak ada pilihan yang ketiga selain dua itu saja, surga dengan segala kenikmatannya, atau neraka dengan segala siksaan yang tak terbayangkan.

Rasulullah Saw bersabda bahwa Allah Swt berfirman: "Aku menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shaleh apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia. Oleh karena itu bacalah kalau kamu suka ayat: 'Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.' (As-Sajdah: 17)." (Hadits Qudsi, Mutafaq'alaih)

Kenyataan

Lalu, apakah kita akan menghiraukan semua materi selama kita hidup..? Kalau saya sih, tidak.

Dunia ini diciptakan untuk kita, umat manusia. Maka, sangatlah wajar jika kita menikmatinya, tentunya dengan beberapa catatan,

Pertama, bahwa semua itu kita raih melewati cara-cara yang halal. Kedua, bahwa hal itu semua tidak kita pergunakan hanya untuk diri kita sendiri saja, tapi juga ada bagian-bagian yang diperuntukkan bagi orang miskin didalamnya. Ketiga, tanamkan dalam benak kita, bahwa semua materi yang kita dapatkan berasal dari Allah SWT, maka, bersyukurlah kepadaNya.

Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al-A'raaf: 32)


Saya ingin menekankan bahwa, inti pesan esai ini adalah agar kita semua (terutama saya pribadi), menyadari bahwa hal utama yang membuat diri bahagia adalah perasaan tentram dalam hati kita, karena Allah selalu bersama kita, karena Ia ridho dengan kondisi kita. Dan kenikmatan sejati adalah kenikmatan yang akan kita akan rasakan di surgaNya kelak, jika kita mampu memasukinya (amin), sementara hal-hal yang lain, adalah kebahagiaan-kebahagiaan semu dan palsu, jika tidak disertai dengan keridhoanNya.

---000---

Samarinda, 22 Januari 2009
Versi bahasa English: http://genkeis.multiply.com/journal/item/413/Once_Again_About_Happiness

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Kebahagiaan"

Poskan Komentar