Menulis Tentang Cinta

WarnaIslam.com Selasa, 03 Februari 2009 01:27

Mencintai yang tak seharusnya dicintai, what the mean of love is?

Kadang tak mengerti akan arti cinta, entah karna kata itu akan cepat sekali memudar, memudar seiring berjalannya waktu, ia bias, datang kapan saja tanpa di undang dan pergi meninggalkan jejak yg sulit untuk di lupakan, datangnya tanpa prediksi, membuatnya tersenyum setiap waktu, kata-kata nya slalu di nanti dan enak untuk diungkap kembali, ia akan selalu terngiang di kepala menjadi bunga-bunga dalam fikirannya. Ia menjadi energi yang tiada dua, penyemangat dalam aktivitas, semua yang dilaluinya menjadi ringan, kekuatan langkahnya menebus semua rintangan. Semua terasa manis dan indah. Mungkin itu cinta! Ketika cinta itu hadir.

Lain halnya ketika ia tiba-tiba pergi atau mengharuskan pergi, tiada lagi energi kekuatan itu entah mengapa energi itu menguap begitu saja, ia akan mengurungkan semua ide, gagasan dan membawanya hanya pada renungan kesedihan, mengapa dan kenapa? Itu yang slalu melintas di benaknya. Ia kan membawa sejuta kepahitan, mencoba untuk rela akan sesuatu yg belum ingin ia lepaskan tapi mengharuskan untuk ikhlas menerima kepergian. Mencoba untuk kembali sebelum perasaan itu hadir, meyakinkan diri bahwa semua ini bisa diatasi, semua akan baik-baik saja dan badaipun kan berlalu.

Ada cerita antara aku dan Dia, Dia sumber cinta yang tiada batas, kasihNya mengalir deras dan terus menerus, dikala hambaNya memalingkan cintaNya, Dia tak pernah jera untuk terus memberi, dikala hambaNya mengkhianatiNya, Dia tetap mendengarkan keluhan-keluhan kelemahannya dan takkan pernah bosan dengan pengaduannya. Bahkan disaat hambanya menyalahkanNya atas suatu keburukan yang menimpanya, pintu kasih sayangNya dan ampunanNya tetap terbuka seluas penciptaannya.

Bahwa cinta itu bagian dari rahmatNya, selayaknya tidak menduakanNya ketika perasaan itu hadir, hingga ketika cinta itu pergi; hambanya tergopoh-gopoh memohon pertolongan kemudahan dan keikhlasan menerima, sifat manusia selalu saja berkeluh kesah pada setiap kesulitan namun sering kali lupa untuk bersyukur ketika diberikan banyak kemudahan.

Menulis tentang cinta seakan takkan pernah habis dan takkan mati, apapun yang ditulis tentang kisah cinta selalu menarik perhatian, tag-line 'cinta' menjadi pusat perhatian seluruh jagat ini. Bisa jadi cinta adalah obat dari segala penyakit :D bahkan penulis pun tak mampu menuangkan dalam kata, dibacanya berulangkali tetap saja tidak menambah pembendaharaan kata, mungkin hanya itu yg diketahuinya hingga saat ini, referensinya pun hanya kisah-kisah yg di dengar, bacaan buku, novel, film atau secuil pengalaman yg pernah dialami. Ah…! Bosan bukan? Membacanya?.

Mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah, bersahabat hanya karena Allah, menjalani kehidupan dan matipun hanya untuk Allah. Lillahir rabbil'aalamiin. Mampukah kita? Mencintai sesuatu atau apapun tidak melebihi kecintaan kita terhadap Allah? Bahwa Dia tempat kita bergantung dan memohon pertolongan dan tidak ada seorangpun yang sebanding denganNya.

"Katakanlah Allah itu satu, Allah itu tempat bergantung (seluruh makhlukNya), Dia tidak beranak maupun di peranakan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia Yang Ahad (satu)" Q.S Al-ikhlash

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Menulis Tentang Cinta"

Poskan Komentar